Surat Pembaca : Dari Ketua BEM UM Bengkulu untuk Bupati Bengkulu Selatan

Penulis : Muhammad Yusuf, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu

COVID-19 adalah virus yang sangat berbahaya dan mematikan sehingga kita harus berhati-hati dalam menjalankan aktivitas keseharian sehingga kita di perkenankan dengan adap tasi kebiasan baru yang mana kita harus menjalankan 3M Menggunakan Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci tanggan untuk menghindari bahaya Covid-19 di tambah lagi menurut pernyatan Kepala dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengatakan Bengkulu Selatan Adalah salah satu Kabupaten dengan Zona Orage yang dapat di artikan bawah kabupaten tersebut memiliki resiko sedang dalam penyebaran Covid-19 kamis, 6/5 (Tribun New)

Dan juga surat edaran Bupati Bengkulu Bengkulu Selatan nomor 360/128/covid-19/lV/2021 tentang penghetian sementara kegiatan yang bersifat keramaiyan/kerumunan dalam rangka pencegahan dan pengendalian covid 19 yang mana dari pernyatan ini menyebutkan bahwa yang melatarbelakanginya tingkat kesadaran masyarakat begitu rendah sehingga meningkatnya jumlah masyarakat bengkulu selatan terkonfirmasi positif covid-19 dan meninggal dunia akibat terpapar covid-19.

Ditambah lagi hal itu di buktikan dengan ketegasan oleh bupati bengkulu selatan kepada media yang menyatakan akan me non-aktivkan Camat manna sebagai bentuk langkah konkeri dari ketegasan seorang pemimpin tentu hal ini sangan diapresiasi oleh masyarakat atas ketegasan pemerintah bengkulu selatan yang mampu menindak tegas para pelanggar peraturan covid-19.

✅ TRENDING :   Menyongsong Bengkulu Selatan Bercahaya 2020

Tapi bagai mana dengan Bupati kita sendiri.??? yang mana melarang warganya untuk tidak melakukan mudik keluar Provinsi atau Melarang warganya di perantau untuk berpulang ke daerahnya untuk berkunjung dengan orang tua kandung, sanak saudaranya yang telah memendam kerinduan yang begitu lama selama satu tahun atau bahkan lebih. karena jarak yang jauh, pekerjaan, dan karena tugas yang memisahkan semua itu mereka tahan demi menjaga kesehatan keluarga dan menaati aturan Bupati demi kesetian warga daerahnya kepada Bupati semua itu dilakukan termasuk saya sendiri yang berada di kota bengkulu tidak ikut berpulang ke kampung halaman saat hari raya induk fitri walau di bolehkan oleh gubernur untuk melakukan hari raya idul fitri di dalam provinsi bengkulu tapi saya memilih untuk tidak pulang.

Tapi hal itu sangat mengecewakan saya ketika melihat bupati pemimpin daerah yang terkenal dengan ketegasanya kepada anak buahnya sampai-sampai ingin memberi sanksi tegas itu luntur (kecewa berat) kepada bupati yang telah melakukan perjalanan dinas ke luar daerah bahkan ke luar provinsi dan harus menyeberangi beberapa pulau di Indonesia termasuk ke provinsi yang sedang mengalami zona merah seperti Jakarta karena transit pesawat terbang untuk menuju Labuhan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka acara Apresiasi Pariwisata Indonesia Ke-5 tahun 2020.

✅ TRENDING :   Efektifitas Pembelajaran Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19


Di mana dalam pernyataan itu mengatakan “pemerintah bengkulu selatan menspot, mengembangkan dan memotivasi daerah-derah sebagai tujuan wisata dan kegiatan ini harus tetap bisa berkembang, acara ini tetap bisa berlangsung walaupun di tengah pandemi covid-19 kita tau pariwisata kita terpuruk tapi kami bangga apa yang sudah di lakukan hari ini terutama di labuhan bajo sambil memegang piala penghargaan pemenang lomba dengan kategori masakan tradisional nominasi 3 besar yaitu Pendap sumber (instagram @APIaward)

tentu mendengar ini membuat bangga masyarakan bengkulu selatan ketika mendengar ini saya pun ikut bangga tapi realisasi itu tentu tidak sesuai dengan keadaan daerah bengkulu selatan hari ini di mana saat itu pemerintah melarang semua kegiatan yang melakukan kerumunan, larangan mudik dan pelanggaran terhadap surat edaran bupati itu di tambah lagi yang baru ini adanya pelanggaran salah satu warga melakukan pesta pernikahan di kecamatan manna mendapat sangsi tegas bahkan virar di salah satu media yang menyatakan pemerintah memberikan sangsi dan bahkan membubarkan kegiatan tersebut betapa kecewanya yang seharusnya menyambut pernikahan dengan riyang gembira bersama keluarga harus di bubarkan oleh aparat satgas covid-19 sedangkan tempat pariwisata pantai pasar bawah, taman remaja yang dekat dengan kantor pemerintahan yaitu gedung DPRD dan pasar ampera dan lainya masih terbuka dan bahkan tempat -tempat hiburan malam karokean di salah satu di bengkulu selatan masih saja beroprasonal sebagaimana seprti biasa dan tidak ada penutupan atau pembubaran yang mana seharusnya yang paling utama di berikan sangsi non-aktif itu adalah dinas pariwisata, dan dinas dinas terkait lainya yang telah gagal dalam menghimbau masyarakat untuk menaati aturan protokol kesehatan termasuk memberi sangsi tegas kepada satgas covid-19 yang ada gagal dalam mengupayakan edukasi masyarkat terhadap bahaya covid-19.

✅ TRENDING :   AR Learning Centre Gelar Training Financial Certified di Tengah Pandemi Covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *